Hujan Untukmu

Sumber gambar di sini


"Akankah hujan datang?" Aku bertanya padamu yang berjalan mendahuluiku dengan kepala tertunduk, menyembunyikan wajah penuh minyak dan matamu yang sayu.

"Iya, tapi tidak hari ini," jawabmu tanpa melihat padaku.

"Kenapa?" Aku berteriak agar mendapat perhatianmu.

Kamu diam saja, tak mau berhenti melangkah. Ah, kamu memang selalu begitu.

Aku berlari berusaha menjajarimu. "Hei, mari kita berpura-pura kalau hujan akan datang hari ini!"

Kamu berhenti tiba-tiba sehingga aku menabrakmu, wajahku terbentur punggungmu. Kamu menoleh menatapku, dan matamu rasanya sedang berkata, “Kamu hanya akan menipu dirimu sendiri!” Lalu kamu melangkah lagi, berbelok ke kanan. Membiarkanku di belakang.

Cerita di Balik Novel: LARA

“Aku dapat merasakan bibirku menyunggingkan senyum. Senyum satire. Hatiku getir. Lidahku terasa pahit. Kupejamkan mata begitu erat hingga bulu-buku mataku basah oleh air mata.”

FreeTalk dengan penulis bisa dibaca di sini

Judul: Lara
Penulis: Sybill Affiat
Editor: Weka Swasti
Proof Reader: Herlina P. Dewi
Desain Cover: Theresia Rosary
Layout Isi: Sindy Fatika
Tebal: 234 halaman
ISBN: 978-602-7572-38-6
Penerbit: Stiletto Book

Blurb :

"L-a-r-a? Tolong aku?!"

Tampilan layar komputer memunculkan sosok perempuan yang berwajah putih pucat. Rambut panjang kusut masai menutup sebagian wajahnya yang semakin mendekat, hingga hanya tampak sepasang mata yang terus menatap dengan sorot dingin dan hampa. Lara menjerit sekencang-kencangnya dan menutup komputernya dengan sekali empasan.

Namaku Larashinta. Panggil aku Lara.

Aku benar-benar tak mampu lagi menyangkal perasaan aneh yang semakin berat menggelayuti hati dan pikiran. Aku merasa seperti mengambang dan tidak berada di dalam kehidupanku. Aku bahkan tidak bisa mengingat jadwal kuliah dan tugas-tugasku. Aku benar-benar terasing, seolah hidup sendirian di dunia ini. Aku tidak bisa bertemu dengan sahabat dan teman-temanku, aku juga tidak bisa mengobrol santai dengan Mbak Saras, kakakku.

Situasi ini membuatku frustrasi. Rasanya bagaikan berjalan di atas bumi yang kehilangan daya gravitasi. Segala usaha yang aku lakukan untuk menjejakkan kaki di atas daratan terasa sia-sia. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?



Mendapatkan kesempatan mengedit novel LARA yang ditulis oleh Mbak Sybill Affiat (aku menyukai novel Mbak Sybill sebelumnya,  Apartemen 666), merupakan kebahagiaan buatku. Yes, ini adalah cerita dengan genre favoritku. Dark drama. Apalagi cerita ini ternyata menyerempet ke misteri, dengan ketegangan yang juga diberikan oleh cerita horor. Perfect!


Behind The Book "THIS GUY IS MINE"





 Sinopsis bisa dibaca di sini

“Kita lihat aja ntar, siapa yang akan dipilih Bastian,” kata Sammy sengit.
“Elo mau saingan? Sama gue?” Raisa benar-benar tidak habis pikir. Bersaing dengan seorang gay? Yang benar saja!

Tiga hari sejak aku bekerja sebagai editor di penerbit buku Stiletto Book, email redaksi yang menjadi tanggung jawabku mendapatkan kiriman naskah dari Gunan Ariani, berjudul This Guy is Mine. Judulnya lucu, pikirku waktu itu. Aku segera mendata naskahnya dan masuk ke dalam daftar antrean evaluasi naskah. Yes, it’s very  long list. I’ll tell you something, membaca kiriman naskah dari para penulis dan mengambil keputusan apakah sampel 30 halaman naskah berpotensi untuk diterbitkan adalah pekerjaan yang menurutku keren banget (it’s a part of my dreams) sekaligus berat banget.

This is it! Tiba saatnya aku membaca sampel naskah This Guy is Mine. Paragraf pertama, aku menyukainya. Novel dibuka oleh percakapan dua sahabat perempuan, Raisa dan Oxcel, pada pagi hari di sebuah kantor. I love it. Energi mereka berdua sangat terasa. Dua halaman, aku mulai tahu kalau Raisa seorang desainer interior yang workaholic dan suka ngopi sebelum memulai aktivitasnya. Menarik. I damn love her character dan hei, aku tahu Raisa sedang menyukai salah seorang atasannya yang superganteng. Well, who doesn’t? 

Dongeng Kenyataan


Di sana di seberang pertokoan
Di sudut tembok pada  jalan raya menikung
Seorang gadis kecil tertidur

Sinar rembulan yang samar oleh lampu kota
Mengintip kedua tangan yang kurus
Menggenggam koin terakhir hari ini
Sebelum esok ia bernyanyi lagi dengan sumbang 
pada persimpangan jalan
di bawah terik matahari yang  angkuh
Untuk meneruskan kerasnya hidup

Apakah ada mimpi di dalam tidurnya?
Karena semua mimpi telah habis dibunuh dan dicuri
Hanya selembar jaket dari seorang asing yang menitipkan kasih
Melindunginya dari angin malam yang menjadi kekasihnya

Sebelum lelap ia berdoa tanpa rangkaian kata
karena ia tak mengerti tentang kata-kata 
Doanya bukanlah harapan agar hidup mengasihani
Apakah ia mengenal harapan?

Bulan bergeser, lampu kota padam
Gadis kecil itu tetap lelap di sana
Hingga esok hari dan esok datang lagi
Tak ada yang dapat membangunkannya
Dan tak ada mimpi yang mampu mengganggunya


Weka Swasti
Yogya, 27 Mei 2011





Blazer and My Life

Pada suatu hari jam dua dini hari, aku terbangun setelah mengalami mimpi aneh yang membuatku sakit kepala. Ada sesuatu di gigiku, semacam karang yang tebal sekali dan itu membuatku sakit kepala. Aku sampai bingung membedakan, mimpi tentang karang gigi yang membuatku sakit kepala atau rasa sakit di kepala yang membuatku bermimpi tentang karang gigi? Baiklah, sebaiknya aku tidak usah membahas ini lebih jauh karena aku akan semakin sakit kepala.

Aku juga bermimpi tentang dia. Aku sampai menghitungnya, sudah lima kali aku bermimpi tentang dia. Jangan tanya aku kenapa, karena aku juga tidak tahu. Mungkin aku menjadi sakit kepala karena dia, lagi-lagi, masuk ke dalam mimpiku. Nggak sopan! Kenapa tidak ada peraturan untuk permisi dulu sebelum masuk ke dalam mimpi? Pengakuan dosa. Seseorang yang masuk ke dalam mimpiku ini laki-laki, dan dia bukan pacarku. Tapi ayolah, mimpi yang kualami tadi terlalu random dan benar-benar tidak jelas. Akhirnya aku memutuskan untuk browsing tentang primbon arti mimpi. Oh, tidak. Coret itu.

Aku ingat, aku pernah berdandan habis-habisan untuk dia yang tiba-tiba masuk lagi ke dalam mimpiku malam ini. Pengakuan dosa. Perempuan... maksudku, aku... sering berdandan cantik bukan sekadar untuk pacar. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang tidak jelas antara aku dengannya. Tapi syukurlah, sesuatu yang tidak jelas itu sudah menjadi jelas ketidakjelasannya.

Akhirnya aku menemukan fakta bahwa... aku berdandan untuk Anies Baswedan. Oh, maaf, coret dulu itu. Maksudku, sebenarnya aku berdandan untuk diriku sendiri.